PKBI Jawa Timur Jangkau Masyarakat Marjinal untuk Berikan Edukasi HIV/AIDS

Sebagai salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat yang memiliki fokus pada Hak-hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Timur memiliki berbagai program untuk memberikan edukasi pada masyarakat. Salah satu program yang dijalankan secara rutinan berbentuk Focused Group Discussion (FGD). Metode FGD adalah bentuk diskusi terfokus yang melibatkan sebuah kelompok untuk membahas suatu masalah tertentu dalam suasana informal. Metode ini biasanya dipilih guna meningkatkan kedalaman informasi dalam suatu kelompok masyarakat melalui diskusi dua arah. Dengan digunakannya metode ini, partisipasi masyarakat dapat dilibatkan dan LSM-pun dapat membangun citra yang dekat dengan masyarakat sekitar, sehingga kegiatan edukasi secara menyeluruhpun dapat berjalan. Adapun dalam FGD ini, peserta akan diberikan edukasi mengenai HIV/AIDS, serta infeksi menular seksual yang ditularkan melalui hubungan seksual tanpa menggunakan kontrasepsi. Layanan mobile VCT secara gratis di tempat juga diberikan guna mendeteksi adanya paparan HIV pada peserta FGD.


Pemahaman kelompok masyarakat marjinal yang cenderung rendah atas Hak-hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi menjadikannya sebagai fokus target pada program FGD PKBI Jawa Timur. Kelompok masyarakat ini seringkali tak terjangkau oleh layanan edukasi kesehatan seksual dan reproduksi secara menyeluruh, sehingga memiliki risiko tinggi terhadap paparan infeksi menular seksual hingga HIV/AIDS. Menurut WHO, virus HIV dapat ditularkan melalui pertukaran cairan tubuh seperti darah, ASI, cairan sperma dan cairan vagina. Selain itu, virus ini juga dapat ditularkan dari ibu ke anaknya selama kehamilan dan persalinan jika ibunya sudah terpapar HIV, sehingga proses persalinan memerlukan perhatian ketat agar penularan HIV pada anak dapat dihindari. Hal ini juga menunjukkan bahwa hubungan seksual yang kemudian dilakukan oleh orang yang memiliki perilaku berganti-ganti pasangan dan berhubungan seksual tanpa menggunakan alat kontrasepsi akan memunculkan risiko tinggi penularan virus HIV. Adapun menurut United Nations Programme on HIV and AIDS (UNAIDS) di tahun 2019, 3 kelompok yang paling rentan terpapar virus HIV adalah pekerja seks, orang yang menggunakan narkoba suntik secara bergilir dan LSL (pria yang melakukan hubungan seksual dengan sesama jenis). Dengan begitu, kelompok ini turut menjadi sasaran edukasi PKBI Jawa Timur.


Dalam laporan Ditjen P2P pada tahun 2019, data kasus HIV di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya dengan infeksi HIV yang dilaporkan di Jawa Timur menempati posisi pertama terbanyak dengan 8.935 kasus. Hal ini kemudian menjadi perhatian bagi PKBI Jawa Timur untuk meningkatkan jangkauan edukasi pada masyarakat marjinal di sekitar Jawa Timur, terlebih di saat pandemi. Metode FGD dipilih guna mengerucutkan pembahasan serta memaksimalkan proses pengambilan data pada masyarakat sehingga perilaku, dampak dan pemecahan masalah (edukasi seperti apa yang diperlukan) dapat ditemukan secara tepat. Yang kemudian menjadi tantangan adalah bahwa kelompok yang justru paling rentan terpapar cenderung memiliki sifat tertutup dan enggan menunjukkan identitas karena bertentangan dengan hukum dan norma masyarakat sekitar. Terlepas dari itu, seluruh masyarakat berhak mendapat perlindungan dan edukasi mengenai kesehatan seksual dan reproduksi, selaras dengan Hak-hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi yang merupakan bagian dari Hak Asasi Manusia (HAM) yang diakui oleh hukum nasional, dokumen internasional tentang Hak Asasi Manusia dan merupakan bagian dari rencana aksi ICPD (International Conference for Population and Development) di tahun 1994 yang turut ditandatangani oleh Indonesia. Adapun rencana aksi ICPD menghasilkan kesepakatan yang menghimbau negara-negara di dunia untuk menyediakan informasi lengkap mengenai bagaimana melindungi diri dari kehamilan yang tidak diinginkan dan HIV/AIDS kepada remaja.