Ayo, Mengenal HIV & AIDS Lebih Jauh !

Pengertian HIV/AIDS

HIV (Human Immunodeficiency Virus)

Human Immunodeficiency Virus  atau yang lebih sering dikenal HIV, merupakan retrovirus yang terdiri atas untai tunggal RNA virus yang masuk ke dalam inti sel pejamu dan ditranskripkan kedalam DNA pejamu ketika menginfeksi pejamu. Menurut Dewi Aminah dalam karya Ilmiahnya , HIV adalah  virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga daya tubuh semakin melemah dan rentan diserang berbagai penyakit. Menurunnya imun tubuh terjadi karena melemahnya kekebalan tubuh akibat infeksi HIV sehingga dapat terjadi infeksi oportunistik. Infeksi oportunistik adalah infeksi yang diakibatkan oleh virus, bakteri, jamur yang terjadi pada seseorang yang memiliki kekebalan tubuh yang lemah.

AIDS (Aquared Immune Deficiency Syndrome)

Aquared Immune Deficiency Syndrome atau AIDS merupakan sekumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh melemahnya sistem kekebalan tubuh akibat infeksi HIV. yang terjadi akibat efek dari perkembang biakan virus HIV dalam tubuh makhluk hidup, kondisi dimana tubuh sudah diserang sepenuhnya/sudah tidak mempunyai kekebalan tubuh lagi. Jadi ketika tubuh sakit tidak bisa sembuh dengan kekebalan sendiri. Melemahnya system pada imun akibat HIV menyebabkan timbulnya gejala AIDS. Akibat menurunnya kekebalan tubuh pada seseorang maka orang tersebut sangat mudah terkena penyakit seperti TBC, kandidiasis, berbagai radang pada kulit, paru, saluran pencernaan, otak dan kanker. Ketika sistem kekebalan tubuh yang tidak mempunyai kemampuan untuk menyerang maka virus ini akan menyebabkan seseorang mengalami keganasan.

Tanda dan Gejala HIV/AIDS

Ahmad Muslimin dalam karya Ilmiahnya mengungkapkan bahwa tanda dan gejala seseorang yang terinfeksi HIV/AIDS biasanya berupa penurunan berat badan lebih dari 10% dalam kurun waktu yang singkat,  demam tinggi, diare, dan batuk yang berkepanjangan (biasanya lebih dari 1 bulan), gangguan atau iritasi kulit, serta pembengkakan kelenjar getah bening di seluruh tubuh. Menurut Konjen RI, Gejala umum lainnya pada orang yang menderita HIV/AIDS  sebagai berikut :

  1. Gangguan saluran pernafasan seperti nafas pendek, henti nafas sejenak, batuk, nyeri dada dan demam).
  2. Gangguan saluran pencernaan. Penderita mengalami kehilangan nafsu makan, mual dan muntah, kerap mengalami penyakit jamur pada rongga mulut dan kerongkongan, serta mengalami diare yang kronik
  3. Penurunan berat badan secara drastis. Penderita mengalami wasting syndrome, yaitu kehilangan berat badan tubuh hingga 10% dibawah normal karena gangguan pada sistem protein dan energy didalam tubuh seperti yang dikenal sebagai Malnutrisi termasuk juga karena gangguan absorbsi/penyerapan makanan pada sistem pencernaan yang mengakibatkan diarhea kronik, kondisi letih dan lemah kurang bertenaga.
  4. Gangguan Sistem Saraf seperti kurang ingatan, sakit kepala, susah berkonsentrasi, sering tampak kebingungan dan respon anggota gerak melambat karena gangguan saraf central. Pada system persyarafan ujung (Peripheral) akan menimbulkan nyeri dan kesemutan pada telapak tangan dan kaki, reflek tendon yang kurang, selalu mengalami tensi darah rendah dan Impoten.
  5. Gangguan pada System Integument (Jaringan kulit). Penderita mengalami serangan virus cacar air (herpes simplex) atau cacar api (herpes zoster) dan berbagai macam penyakit kulit yang menimbulkan rasa nyeri pada jaringan kulit. Lainnya adalah mengalami infeksi jaringan rambut pada kulit (Folliculities), kulit kering berbercak (kulit lapisan luar retak-retak) serta Eczema atau psoriasis.
  6. Gangguan pada Saluran Kemih dan Reproduksi pada wanita. Secara umum para penderita seringkali mengalami penyakit jamur pada vagina, hal ini sebagai tanda awal terinfeksi virus HIV. Luka pada saluran kemih, menderita penyakit syphillis dan dibandingkan Pria maka wanita lebih banyak jumlahnya yang menderita penyakit cacar. Lainnya adalah penderita AIDS wanita banyak yang mengalami peradangan rongga (tulang) pelvic dikenal sebagai istilah ‘pelvic inflammatory disease (PID)’ dan mengalami masa haid yang tidak teratur (abnormal).

Perilaku Berisiko yang Menularkan HIV/AIDS

  1. Melakukan hubungan seksual yang berisiko.
  2. Berganti-ganti pasangan dalam berhubungan seksual atau berhubungan seksual dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan.
  3. Menerima suntikan, tranfusi darah, tranplantasi jaringan, atau prosedur medis yang melibatkan pemotongan atau tindakan yang tidak steril.
  4. Memiliki penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) lainnya, seperti: gonore, klamidia, sifilis, herpes, dll
  5. Berbagi jarum suntik yang terkontaminasi ketika menyuntikkan narkoba.

Tahapan HIV/AIDS

Menurut Diana Kusumawati dalam penelitiannya, Virus HIV yang menginfeksi manusia tidak serta merta menimbulkan gejala yang parah. Butuh waktu lama untuk berkembang menjadi AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) setelah terinfeksi HIV. Seseorang yang terpapar HIV akan mengalami beberapa tahapan. WHO mengelompokkan tahapan tersebut sebagai berikut:

  1. Tahapan I: penyakit tidak menunjukkan gejala apapun serta tidak dikategorikan sebagai AIDS. Pada tahap ini, seseorang yang terinfeksi virus HIV akan mengalami penyakit semacam Flu. Gejala ini akan  muncul beberapa saat setelah terinfeksi. Periode ini sering disebut dengan serokonversi. Setelah itu, HIV tidak menunjukkan gejala apapun selama beberapa tahun. Adapun terdapat juga gejala yang paling umum terjadi, seperti: sakit tenggorokan, nyeri persendian, munculnya ruam pada tubuh (biasanya tidak gatal),  nyeri otot, turunnya berat badan, dll.beberapa gejala tersebut dapat bertahan selama satu hingga dua bulan karena hal ini menandakan bahwa sistem kekebalan tubuh sedang melawan virus.
  2. Tahapan II: Pada tahap kedua setelah gejala awal menghilang, biasanya HIV tidak menimbulkan gejala lebih lanjut selama bertahun-tahun. Periode ini disebut 11 sebagai masa inkubasi, atau masa laten. Virus yang ada terus menyebar dan merusak sistem kekebalan tubuh. Penderita biasanya akan merasa sehat dan tidak ada masalah. Mungkin mereka (penderita) tidak menyadari, bahwa sudah mengidap HIV akan tetapi mereka sudah bisa menularkan infeksi ini kepada orang lain. Rentang waktu tahapan ini bisa berjalan sekitar 10 tahun atau bahkan bisa lebih
  3. Tahapan III: Tahap ini dikenal sebagai AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Perkembangan virus HIV pada tahap ketiga ini jika penderita tidak ditangani dengan cepat dan tepat, virus akan melemahkan kemampuan tubuh dalam melawan infeksi sehingga penderita lebih mudah terserang penyakit serius. Beberapa gejala yang muncul pada infeksi HIV pada tahap ini atara lain diare kronis yang berkepanjangan dan tidak diketahui penyebabnya, infeksi bakteri yang parah, dan Tuberkulosis paru-paru.
  4. Tahapan IV: Tahap ke-empat merupakan tahap puncak dari tahapan perkembangan infeksi HIV. Pada tahap ini gangguan yang muncul meliputi : Toksoplasmosis pada otak, Kandidiasis pada saluran tenggorokan (oesophagus), saluran pernafasan (trachea), batang saluran paru-paru (bronchi) atau paru-paru dan Sarkoma Kaposi. Sebagian besar keadaan ini merupakan infeksi oportunistik yang apabila diderita oleh orang yang sehat dapat diobati akan tetapi sebaliknya jika diderita oleh penderita HIV-AIDS akan menjadi lebih sulit.

Penularan HIV/AIDS

HIV/AIDS merupakan penyakit epidemik yang melanda masyarakat di berbagai negara, sehingga penyakit ini menjadi keprihatinan negara-negara lain. HIV/AIDS tergolong mematikan dan dapat menyebar dengan cara tertentu. Masyarakat seharusnya memiliki pemahaman yang benar tentang bagaimana penyakit HIV/AIDS ini ditularkan.

Data yang dirilis dari waktu ke waktu oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan infeksi HIV tidak mengalami penurunan bahkan mengalami meningkatan. Hal inilah yang perlu menjadi perhatian semua pihak terutama organisasi kesehatan dunia World Health Organization (WHO)

Menurut WHO yang dikutip oleh KJRI untuk Hongkong bahwa virus HIV/AIDS dapat menular melalui empat cara, yaitu:

  1. Penularan melalui hubungan seksual, HIV dapat menular melalui hubungan seksual yang tidak terlindungi
  2. Penularan melalui tranfusi darah, melakukan tranfusi darah yang sebelumnya belum di screening dapat berpotensi sebagai sarana penularan HIV
  3. Penularan melalui jarum suntik, HIV dapat menular melalui jarum suntik yang tidak steril atau yang digunakan secara bergantian.
  4. Penularan dari ibu ke anak, virus HIV dapat ditularkan ke anak selama masa kehamilan, proses kelahiran, dan menyusui. Secara umum, resiko penularan ke anak terjadi kisaran 15% – 30% sebelum dan sesudah melahirkan.

Cara Pencegahan HIV/AIDS

Secara umum, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah penularan HIV. Cara cara tersebut lebih dikenal dengan konsep “ABCDE” yaitu:

  1. A (Abstinence): artinya tidak melakukan hubungan seksual bagi yang belum menikah.
  2. B (Be Faithful): artinya bersikaplah setia dan hindari berganti-ganti pasangan.
  3. C (Condom): artinya gunakan kondom sebagai cara pencegahan HIV melalui hubungan seksual.
  4. D (Drug no): artinya hindari penggunaan narkoba.
  5. E (education): artinya memberikan pendidikan dan informasi yang akurat tentang penularan, pencegahan, dan pengobatan HIV.