Sudah Kenalkah dengan TUBERKULOSIS (TB)?

Tuberkulosis (TB) adalah merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri mikrobacterium tuberculosis. Tuberkulosis tetap menjadi 10 penyebab kematian tertinggi di dunia yang menyebabkan kematian sekitar 1,3 juta pasien (Kartasasmita, 2016).

Menurut data dari Kementerian Kesehatan Indonesia, pada tahun 2020, terdapat sekitar 350.000 kasus TB di Indonesia. Angka tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan dengan tahun 2019 yang mencapai 429.882 kasus. Untuk Provinsi Jawa Timur jumlah kasus TB tertinggi kedua di Indonesia setelah Jawa Tengah. Pada tahun 2020, terdapat sekitar 36.000 kasus TB di Jawa Timur. Kasus Tuberkulosis (TBC) yang ditemukan sepanjang tahun 2022 ada 81.753 atau 74% dari estimasi 107.547 yang ditemukan di Jawa Timur. Kasus terbanyak di Jawa Timur, ada di Kota Surabaya dengan jumlah kasus sebanyak 10.741 (Widyana,2023).

Menurut data dari World Health Organization (WHO), pada tahun 2019 terdapat sekitar 10 juta kasus TB di seluruh dunia dan sekitar 1,4 juta orang meninggal dunia akibat TB. Masalah utama dalam penanganan TB adalah banyaknya kasus TB yang tidak terdeteksi dan terdiagnosis secara dini. Hal ini mengakibatkan penyebaran TB semakin cepat dan luas. Selain itu, pengobatan TB yang tidak tepat dan tidak lengkap dapat menyebabkan resistensi terhadap obat-obatan yang digunakan dalam pengobatan TB, sehingga menyulitkan dalam penanganan TB (WHO,2020).

Penyebab utama TB adalah bakteri Mycobacterium tuberculosis (Kartasasmita, 2016). Bakteri ini menyebar melalui udara ketika seseorang yang terinfeksi TB paru batuk atau bersin. Orang yang tinggal atau bekerja dalam lingkungan yang padat penduduk, seperti penjara atau rumah susun, lebih rentan terinfeksi TB. Selain itu, orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti orang dengan HIV/AIDS, juga lebih rentan terkena TB. Gejala TB paru antara lain batuk yang berlangsung selama lebih dari dua minggu, dahak berdarah atau berwarna kekuningan, demam, keringat malam, dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan. Gejala TB ekstra paru tergantung pada organ tubuh yang terkena.

TB bisa disembuhkan dengan pengobatan yang tepat dan lengkap. Pengobatan TB memerlukan waktu yang lama, yaitu sekitar 6 bulan hingga 1 tahun tergantung dari jenis TB yang dialami. Pengobatan TB melibatkan obat-obatan yang harus diminum secara teratur dan sesuai dengan petunjuk dokter. Penting untuk menyelesaikan seluruh durasi pengobatan meskipun gejala TB sudah hilang.

Sementara itu terdapat beberapa cara untuk mencegah penyebaran TB (American, 2017), sebagai berikut:

  1. Vaksinasi BCG: vaksinasi BCG adalah vaksin yang dapat membantu melindungi terhadap beberapa bentuk TB, terutama pada anak-anak.
  2. Menjaga kebersihan lingkungan: kebersihan lingkungan yang baik dapat mengurangi risiko terinfeksi TB. Hal ini meliputi membuang sampah dengan benar, membersihkan kamar mandi dan toilet secara teratur, serta meningkatkan ventilasi di dalam ruangan.
  3. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh: meningkatkan sistem kekebalan tubuh dapat membantu melindungi terhadap infeksi TB. Cara meningkatkan sistem kekebalan tubuh antara lain dengan menjaga pola makan sehat, berolahraga secara teratur, dan menghindari stres.
  4. Menjaga jarak dan menghindari kerumunan: menghindari kerumunan dan menjaga jarak dapat membantu mengurangi risiko terinfeksi TB.

TB adalah penyakit menular yang serius dan dapat menyerang berbagai organ tubuh. Penting untuk mengenali gejala TB dan mencari pengobatan yang tepat dan lengkap. Selain itu, mencegah penyebaran TB juga merupakan hal yang penting. Dengan menjaga kebersihan lingkungan, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dan menghindari kerumunan. kita dapat membantu mencegah penyebaran TB. Perlu adanya upaya yang lebih besar dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, dalam penanganan TB dan pencegahan penyebaran TB di seluruh dunia.

Daftar Pustaka

American Thoracic Society, Centers for Disease Control and Prevention, Infectious Diseases Society of America. (2017). Treatment of tuberculosis.

Kartasasmita, C. B. (2016). Epidemiologi tuberkulosis. Sari Pediatri, 11(2), 124– 129.

Kemenkes R. I. (2019). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2019. https://pusdatin.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/profilkesehatan-indonesia/Profil-Kesehatan-indonesia-2019.pdf

Widyana,Esti.2023. warga jatim alami tbc penyumbang tertinggi kota Surabaya.detik.com

World Health Organization. (2020). Global tuberculosis report 2020.