PKBI Jawa Timur Goes to School: Edukasi Anti-Bullying dan Relasi Sehat untuk Remaja yang Lebih Berdaya

Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Timur bersama mahasiswa program MBKM Bimbingan Konseling Islam (BKI) UIN Sunan Ampel Surabaya melaksanakan program edukatif bertajuk Goes to School. Kegiatan kali ini menyasar siswa-siswi tingkat SMP sebagai upaya meningkatkan pemahaman mereka terhadap isu-isu remaja seperti bullying dan pentingnya menjalin relasi sehat di lingkungan pertemanan remaja.

Program ini dilaksanakan di dua sekolah, yakni SMPN 57 Surabaya dan SMP Islam Parlaungan-Waru, dengan metode pendekatan yang partisipatif, menyenangkan, dan penuh empati. Siswa diajak berdiskusi, bermain peran, dan mengekspresikan diri dalam suasana yang aman dan suportif.

Edukasi yang Berdampak: Bukti Peningkatan Pengetahuan

Salah satu capaian nyata dari kegiatan ini terlihat dari hasil pre-test dan post-test yang dilakukan kepada peserta. Rata-rata skor pre-test siswa sebelum penyuluhan adalah 7.60, sedangkan skor rata-rata setelah penyuluhan meningkat menjadi 8.17. Ini berarti terdapat peningkatan pemahaman sebesar 7.5% terkait materi yang disampaikan. Menurut hasil evaluasi, sebanyak 96% siswa merasa materi yang diberikan sangat bermanfaat dan lebih dari 85% siswa menyatakan mereka baru pertama kali mendapatkan edukasi dengan cara yang interaktif dan menyenangkan.

Suara Remaja, Cermin Kebutuhan Nyata

Sesi diskusi terbuka dalam program ini berhasil mengungkap berbagai keresahan remaja yang seringkali tidak terungkap, mulai dari dinamika pertemanan tidak sehat, toxic friendship, hingga tekanan untuk menjadi “anak gaul”. 

“Aku nggak sadar kalau omonganku bisa nyakitin teman,” ungkap salah satu peserta, 

mencerminkan fenomena yang juga ditemukan Olweus (1993) tentang kurangnya kesadaran pelaku bullying akan dampak tindakannya. Pernyataan jujur ini menunjukkan urgensi ruang edukasi yang membahas kesadaran diri, empati, dan komunikasi non-kekerasan. Tak sedikit siswa yang mengaku pernah mengalami tekanan untuk mengikuti perilaku bullying agar tidak dikucilkan atau merasa tidak nyaman dalam lingkaran pertemanan mereka, menunjukkan kuatnya pengaruh peer pressure (tekanan teman sebaya) di kalangan remaja (Brown & Larson, 2009).  

Kegiatan ini berhasil menciptakan ruang aman bagi siswa untuk berbagi pengalaman secara terbuka. Banyak peserta yang akhirnya mengungkapkan pengalaman mereka sebagai korban bullying atau ketidaknyamanan dalam pertemanan, sesuatu yang jarang mereka bicarakan sebelumnya. Pengakuan-pengakuan jujur ini tidak hanya mempertegas pentingnya forum semacam ini, tetapi juga menunjukkan betapa remaja sangat membutuhkan wadah untuk merasa didengar dan dipahami, sekaligus belajar membangun relasi yang lebih sehat. Fakta-fakta yang terungkap menjadi bukti nyata bahwa edukasi semacam ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak di kalangan remaja.

Metode Interaktif yang Membuat “Ngeh

Keberhasilan program ini tidak lepas dari penerapan metode experiential learning (Kolb, 1984) yang mengedepankan partisipasi aktif peserta. Salah satu aktivitas yang paling berdampak adalah sesi roleplay, di mana siswa tidak hanya menjadi pengamat, tetapi secara langsung memerankan berbagai skenario. Mereka mempraktikkan dua sisi relasi baik yang sehat maupun toxic mulai dari cara berkomunikasi dengan empati, menyelesaikan konflik secara konstruktif, hingga mengenali tanda-tanda pertemanan tidak sehat seperti manipulasi atau pengucilan. Melalui metode ini, siswa diajak merasakan langsung dampak bullying dari berbagai perspektif, baik sebagai korban, pelaku, maupun penonton.

Selain roleplay, kuis interaktif dengan hadiah kecil berhasil memicu antusiasme belajar, sementara sesi ekspresi kreatif memberi ruang bagi siswa yang kurang nyaman berbicara. 

“Dengan jadi pelaku dalam roleplay, aku baru ngerasain gimana sakitnya di-bully,” akui salah satu peserta. 

Pendekatan multidimensi ini terbukti efektif menciptakan pembelajaran yang menyenangkan sekaligus bermakna, sebagaimana ditegaskan dalam penelitian Espelage dan Swearer (2003) tentang efektivitas metode partisipatif dalam pencegahan bullying

“Kegiatannya seru dan bikin mikir, ternyata ngomong ke teman juga ada caranya biar nggak menyakitkan,” tutur peserta lain, 

menunjukkan bagaimana pengalaman simulasi ini membantu mereka memahami konsep abstrak menjadi sesuatu yang konkret dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan kompleksitas tantangan yang dihadapi remaja saat ini baik dari media sosial, tekanan akademik, hingga dinamika pertemanan edukasi yang menyentuh aspek emosional dan sosial menjadi kebutuhan mendesak. Goes to School adalah bukti bahwa ketika edukasi dikemas dengan pendekatan yang empatik, interaktif, dan relevan, maka siswa akan “ngeh” dan terdorong untuk berubah.

Ingin berkolaborasi untuk memberikan edukasi bersama PKBI JATIM? Hubungi kami melalui kontak yang tertera di bawah atau kirimkan penawaran Anda melalui email.

Kontak:

Hotline PKBI Daerah Jawa Timur
Nomor telepon: +62 823-2360-2830
Email : pkbijatim@pkbi.or.id
Alamat : PKBI Daerah Jawa Timur, Jl. Indragiri No. 24, Surabaya

Kontributor Penulis: Amelia Ismah Silawarti ( Mahasiswa Bimbingan Konseling Islam UINSA)

Referensi:

Nugroho, H. W., Utami, R., & Nugraha, R. A. (2022). Experiental Learning Sebagai Upaya Penguatan Pendidikan Demokrasi dan Pancasila. Jurnal Filsafat32(2), 255.

Gredler, G. R. (2003). Olweus, D.(1993). Bullying at school: What we know and what we can do. Malden, MA: Blackwell Publishing, 140 pp., $25.00. Psychology in the Schools40(6).

Brown, B. B., & Larson, J. (2009). Peer relationships in adolescence. Handbook of adolescent psychology2(Pt I), 74-104.Espelage, D. L., & Swearer, S. M. (2003). Research on school bullying and victimization: What have we learned and where do we go from here?. School psychology review32(3), 365-383.

    Write a comment