Setiap tanggal 28 Mei, dunia internasional memperingati Menstrual Hygiene Day (MH Day) atau Hari Kebersihan Menstruasi sebagai momentum global untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) yang layak. Peringatan tahun ini kembali menegaskan perlunya sinergi lintas sektor dalam menghapus stigma negatif, mitos, dan tabu sosial yang hingga kini masih sering menyelimuti proses biologis alami ini, khususnya di kalangan remaja dan masyarakat luas (McAllister et al., 2025).
Meskipun menstruasi merupakan indikator normal dari kesehatan reproduksi, keterbatasan akses informasi dan edukasi yang komprehensif masih menjadi tantangan besar di lapangan. Banyak remaja perempuan yang sudah memasuki fase menarke tapi tidak memiliki bekal pengetahuan yang memadai, sehingga memicu rasa cemas dan penurunan rasa percaya diri dalam beraktivitas sehari-hari (Dwi Anjani et al., 2026). Masih banyak remaja perempuan merasa malu membicarakan menstruasi, termasuk ketika mengalami nyeri haid berlebihan, menstruasi tidak teratur, atau masalah kesehatan reproduksi lainnya. Situasi ini diperparah oleh konstruksi sosial di beberapa komunitas yang menganggap pembahasan mengenai menstruasi sebagai hal yang tabu dan memalukan untuk dibicarakan secara terbuka (McAllister et al., 2025).
Dampak dari minimnya pemahaman dan akses terhadap Menstrual Hygiene Management (MHM) yang baik ini juga merambah pada sektor kesehatan publik dan pendidikan. Penggunaan media pembalut yang tidak higienis akibat keterbatasan ekonomi secara nyata meningkatkan risiko infeksi saluran kemih serta gangguan kesehatan reproduksi jangka panjang. Di sisi lain, banyak pelajar perempuan terpaksa tidak masuk sekolah selama masa menstruasi akibat fasilitas sanitasi di institusi pendidikan yang belum responsif gender, seperti ketiadaan air bersih, toilet tanpa kunci yang aman, atau tidak adanya tempat pembuangan yang layak (Pitaloka et al., 2024).
Guna mengatasi persoalan tersebut, para ahli dan aktivis kemanusiaan terus mendorong penguatan edukasi sebagai salah satu solusi taktis (Berliana et al., 2025). Dengan edukasi ini, diharapakan remaja dapat terfasilitasi dengan ruang diskusi yang aman, terbuka, dan tidak menghakimi agar mereka dapat saling berbagi informasi valid mengenai manajemen kesehatan reproduksi tanpa rasa canggung (Kamal, 2025). Pendekatan dengan edukasi ini diharap memiliki dampak yang efektif dalam meruntuhkan dinding pembatas berupa rasa malu yang selama ini menghambat penyerapan informasi kesehatan yang benar.
Selain intervensi edukasi, pembenahan infrastruktur publik dan pelibatan kelompok laki-laki juga menjadi agenda krusial. Upaya menciptakan ekosistem yang suportif memerlukan keterlibatan aktif dari para ayah, guru, dan remaja laki-laki agar dapat menumbuhkan empati serta menghentikan segala bentuk perundungan terkait menstruasi di lingkungan sosial. Melalui pemenuhan hak atas sanitasi yang layak dan penghapusan stigma, diharapkan tidak ada lagi perempuan yang terhambat potensi, pendidikan, maupun produktivitasnya hanya karena siklus bulanan yang dialaminya.
Selain menjaga kebersihan menstruasi, penting bagi remaja dan perempuan untuk mengenali tanda menstruasi yang perlu diperiksakan ke tenaga kesehatan, seperti nyeri haid berlebihan, siklus menstruasi yang tidak teratur, perdarahan terlalu banyak, atau nyeri yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Pemeriksaan sejak dini penting untuk membantu mendeteksi gangguan kesehatan reproduksi dan mendapatkan penanganan yang tepat. Melalui Klinik Utama PKBI Jatim, remaja dan perempuan dapat mengakses layanan konsultasi kesehatan reproduksi, pemeriksaan, serta edukasi menstruasi secara aman dan nyaman bersama tenaga kesehatan profesional.
Kontak Hotline PKBI Daerah Jawa Timur:
Nomor Whatsapp : 0823-2360-2830
Email : pkbijatim@pkbi.or.id
Alamat : PKBI Daerah Jawa Timur, Jl. Indragiri No. 24, Surabaya
DM Instagram : @pkbijawatimur @klinikutamapkbijatim
Kontributor Penulis: Kyla Afiifah Putri Sahid
Referensi
Berliana, B., Defrin, D., Adrial, A., Yusrawati, Y., Purna, R. S., & Asri, E. (2025). Effect of Peer Education on Knowledge and Attitudes Toward Menstrual Hygiene Management Among Boarding School Students. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia, 21(1), 35–47. https://doi.org/10.14710/jpki.21.1.35-47
Dwi Anjani, I., Radita Alma, L., & Dwi Tama, T. (2026). ANALYSIS OF MENSTRUAL KNOWLEDGE AND MOTHER-CHILD COMMUNICATION ON ANXIETY 4TH-6TH GRADES FEMALE STUDENTS AT ASH-SHODIQ ISLAMIC ELEMENTARY SCHOOL BULULAWANG IN 2024. Jurnal Healthsains, 7. https://doi.org/https://doi.org/10.46799/jhs.v7i4.2822
Kamal, A. (2025). TRANSFORMASI EDUKASI FEMININE HYGIENE MELALUI MEDIA SOSIAL. JURNAL NERS, 9, 988–997. http://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/ners
McAllister, J., Amery, F., Channon, M., & Thomson, J. (2025). Where is menstruation in global health policy? The need for a collective understanding. Global Public Health, 20(1). https://doi.org/10.1080/17441692.2024.2448272Pitaloka, R. D., Keswara, N. W., & Purwanti, A. S. (2024). Hubungan Pengetahuan Tentang Menstruasi Dengan Kesiapan Menghadapi Menarche Pada Siswi Kelas 4-6. Binawan Student Journal, 6(1), 36–41. https://doi.org/10.54771/r42n9k29




