Kehamilan Tidak Direncanakan Bisa Dicegah: Mengenal Kontrasepsi sebagai Langkah Bijak Menjaga Kesehatan Reproduksi 

Setiap tanggal 28 September dunia memperingati Hari Aborsi Aman Sedunia (Safe Abortion Day). Momentum ini menjadi pengingat bahwa kehamilan yang tidak direncanakan masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang berdampak pada keselamatan banyak perempuan di berbagai negara. World Health Organization (WHO) mencatat sekitar 73 juta aborsi terjadi setiap tahun di dunia dan hampir 45% di antaranya berlangsung dalam kondisi tidak aman. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap sekitar 4,7–13,2 persen kematian ibu setiap tahun atau diperkirakan menyebabkan sekitar 22.800 kematian yang sebenarnya dapat dicegah. Di Indonesia, angka kematian akibat aborsi sulit dipastikan karena masih banyak kasus yang tidak tercatat. Namun, berbagai kajian menunjukkan bahwa komplikasi akibat aborsi tidak aman masih menjadi bagian dari penyebab kematian ibu yang perlu mendapat perhatian. Fakta ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan menjadi langkah penting agar risiko tersebut tidak terus meningkat. 

Remaja menjadi salah satu kelompok yang membutuhkan perhatian lebih dalam isu ini. World Health Organization (WHO) memperkirakan setiap tahun terdapat sekitar 21 juta kehamilan pada remaja usia 15–19 tahun di negara berpendapatan rendah dan menengah. Sekitar setengah dari kehamilan tersebut merupakan kehamilan yang tidak direncanakan dan lebih dari separuhnya berakhir dengan aborsi. Situasi ini memperlihatkan bahwa kurangnya akses terhadap informasi kesehatan reproduksi yang benar dapat meningkatkan berbagai risiko kesehatan bagi remaja. Karena itu, mencegah kehamilan tidak direncanakan melalui edukasi menjadi salah satu langkah penting untuk menekan munculnya komplikasi yang dapat mengancam keselamatan ibu muda. 

Kehamilan tidak direncanakan dapat terjadi karena berbagai faktor yang saling berkaitan. Kurangnya pemahaman kesehatan reproduksi, penggunaan kontrasepsi yang tidak tepat atau tidak konsisten, serta keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan menjadi beberapa penyebab yang masih sering ditemukan (WHO, 2023). Pada remaja, tantangan ini semakin besar karena informasi sering diperoleh dari media sosial atau cerita teman sebaya yang belum tentu sesuai dengan fakta. Sementara itu, pada pasangan usia reproduktif, keputusan untuk memiliki anak biasanya dipengaruhi oleh banyak pertimbangan seperti kondisi kesehatan, kesiapan ekonomi, pekerjaan, dan rencana keluarga. Situasi tersebut menunjukkan bahwa pencegahan bukan hanya soal menghindari risiko, tetapi juga tentang memastikan setiap orang memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengambil keputusan secara sadar dan bertanggung jawab. 

Kontrasepsi menjadi salah satu bagian penting dalam upaya menjaga kesehatan reproduksi karena membantu seseorang atau pasangan merencanakan kehamilan sesuai dengan kebutuhan mereka (WHO, 2023). Yang perlu dipahami adalah bahwa tidak ada satu metode kontrasepsi yang paling baik untuk semua orang. Setiap individu memiliki kondisi kesehatan, kenyamanan, gaya hidup, dan tujuan reproduksi yang berbeda sehingga pilihan kontrasepsi pun dapat berbeda. Inilah alasan mengapa mengenal berbagai pilihan kontrasepsi jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti pengalaman orang lain. Ketika seseorang memahami bahwa setiap pilihan memiliki karakteristik dan pertimbangannya sendiri, keputusan yang diambil akan lebih sesuai dengan kebutuhan pribadi dan tidak didasarkan pada anggapan atau mitos yang berkembang di masyarakat.

Dalam memilih kontrasepsi, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Kondisi kesehatan, usia, rencana memiliki anak, kenyamanan saat menggunakan, serta efektivitas metode menjadi faktor yang perlu diperhatikan sebelum menentukan pilihan (Kementerian Kesehatan RI, 2023). Keputusan ini bersifat personal sehingga tidak dapat disamaratakan untuk semua orang. Sayangnya, masih banyak mitos yang membuat orang ragu mencari informasi yang benar. Ada yang percaya bahwa semua kontrasepsi memiliki dampak yang sama bagi setiap orang atau bahwa pengalaman seseorang pasti berlaku untuk orang lain. Padahal, kondisi tubuh setiap individu berbeda sehingga informasi yang tepat sebaiknya diperoleh dari sumber yang terpercaya seperti tenaga kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, Kementerian Kesehatan, BKKBN, PKBI, WHO, maupun UNFPA. Dengan membiasakan diri memverifikasi informasi, masyarakat dapat terhindar dari kesalahpahaman yang dapat memengaruhi keputusan mengenai kesehatan reproduksi.

Salah satu langkah terbaik sebelum memilih kontrasepsi adalah berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Konsultasi memberikan ruang bagi seseorang maupun pasangan untuk mendiskusikan kondisi kesehatan, kebutuhan, serta rencana memiliki anak sehingga pilihan yang diambil benar-benar sesuai dengan situasi masing-masing. Pendampingan dari tenaga kesehatan juga membantu menjelaskan manfaat, pertimbangan, dan berbagai pilihan yang tersedia tanpa menghakimi keputusan individu. Proses ini penting karena setiap orang berhak memperoleh informasi yang akurat agar dapat mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan dirinya sendiri, bukan karena tekanan lingkungan atau informasi yang belum tentu benar. Pada akhirnya, mencegah kehamilan tidak direncanakan merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan reproduksi sepanjang kehidupan. Semakin baik pengetahuan yang dimiliki, semakin besar pula kesempatan seseorang untuk membuat keputusan yang sehat dan bertanggung jawab. 

Momentum Hari Aborsi Aman Sedunia menjadi pengingat bahwa langkah pencegahan dimulai dari edukasi, akses terhadap informasi yang benar, dan keberanian untuk berkonsultasi ketika membutuhkan pendampingan. Jika kamu masih memiliki pertanyaan tentang kontrasepsi atau membutuhkan informasi kesehatan reproduksi yang akurat, Klinik Utama PKBI Jawa Timur siap menjadi ruang yang aman untuk mendapatkan edukasi, konsultasi, dan layanan kesehatan reproduksi secara ramah serta menjaga kerahasiaan setiap klien. Setiap orang berhak mendapatkan informasi yang benar agar dapat mengambil keputusan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi dirinya. 

Kontak Hotline PKBI Daerah Jawa Timur:

Nomor Whatsapp : 0823-2360-2830
Email                      : pkbijatim@pkbi.or.id 
Alamat : PKBI Daerah Jawa Timur, Jl. Indragiri No. 24, Surabaya
DM Instagram : @pkbijawatimur  @klinikutamapkbijatim @gueberani_surabaya 

Kontributor Penulis :  Amelia Putri Eka Yusiana (Bimbingan dan Konseling, Universitas Negeri Surabaya)

Sumber Referensi

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. (2022). Panduan Pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi. BKKBN.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman Pelayanan Kontrasepsi dan Keluarga Berencana. Kementerian Kesehatan RI.

United Nations Population Fund. (2022). Sexual and Reproductive Health. UNFPA. https://www.unfpa.org/sexual-reproductive-health 

World Health Organization. (2023). Family Planning/Contraception Methods. WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/family-planning-contraception 

    Write a comment