Perundungan atau bullying masih menjadi salah satu masalah terbesar di lingkungan pendidikan dan pondok pesantren. Banyak remaja yang diam, tidak berani berbicara, atau bahkan tidak sadar bahwa mereka sedang berada dalam hubungan yang tidak sehat. Berangkat dari kebutuhan untuk menciptakan lingkungan yang aman, suportif, dan bebas kekerasan, PKBI Jawa Timur bersama Mahasiswa Bimbingan Konseling Universitas Negeri Surabaya mengadakan kegiatan Bimbingan Kelas Besar Anti-Perundungan, Komunikasi Asertif, dan Pemutusan Rantai Trauma kepada para santri tingkat SMP di Pondok Pesantren Modern Al-Amanah Krian, Sidoarjo.

Progam ini dirancang sebagai intervensi komprehensif yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membekali para santri dengan keterampilan sosial, pengelolahan emosi, kemampuan melindungi diri bagi para santri yang hidup dalam lingkungan pondok pesantren serta menjadi ruang aman bagi para remaja untuk memahami diri, belajar mengungkapkan pendapat, serta menyembuhkan pengalaman tidak nyaman yang mungkin pernah mereka alami.
Belajar Lewat Video dan Studi Kasus: Mengajak Santri Berpikir Kritis
Kegiatan dibuka dengan pendekatan Project Based Learning (PBL). Sebelum memasuki materi inti, para santri terlebih dahulu diajak untuk memahami situasi nyata melalui tayangan video dan studi kasus. Dalam sesi tersebut, Silva selaku pemateri menyampaikan beberapa pertanyaan pemantik untuk membantu santri melihat masalah secara lebih jernih. “Apa bentuk perundungan yang terlihat di kasus tadi?” tanya Silva, mengajak santri untuk mengidentifikasi perilaku bermasalah yang sering dianggap sepele di lingkungan mereka.
Ia kemudian melanjutkan dengan pertanyaan yang lebih menyentuh sisi empati. “Menurut kalian, bagaimana perasaan korban saat mengalami hal itu?” Pertanyaan ini membuat para santri mulai merenung dan mencoba membayangkan posisi korban. Menurut Silva, pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk membuka ruang diskusi yang aman serta membangun kesadaran bahwa bullying tidak bisa dibiarkan terjadi. Silva menyampaikan kembali “Kalau kita paham situasinya, kita bisa belajar untuk lebih peka, lebih berani menolak, dan saling menjaga,” jelasnya dalam sesi tersebut.
Penyampaian Materi: Mengenali Perundungan, Berkomunikasi Sehat, dan Memutus Rantai Trauma

Materi utama dalam kegiatan ini disampaikan oleh Zilfy dan Silva, mahasiswa MBKM BK UNESA. Keduanya menggabungkan tiga topik penting anti perundungan, komunikasi asertif, serta upaya memutus rantai trauma dalam satu alur yang mudah dipahami oleh para santriwati.
Zilfy membuka sesi dengan menjelaskan berbagai bentuk perundungan yang sering terjadi di lingkungan sekolah maupun pondok. Ia mengajak santri untuk lebih peka terhadap tindakan yang mungkin tampak sepele namun berdampak besar, seperti ejekan, sindiran, pengucilan, hingga tindakan fisik. Melalui contoh-contoh nyata, para santriwati mulai menyadari bahwa beberapa hal yang selama ini dianggap “biasa saja” ternyata masuk dalam kategori perundungan dan dapat meninggalkan luka psikologis yang panjang.
Beberapa santri kemudian secara sukarela membagikan pengalaman mereka mulai dari diejek, disuruh melakukan hal yang tidak nyaman, hingga didorong oleh teman sebayanya. Ruangan menjadi tempat yang aman bagi mereka untuk berbagi dan didengar. Melanjutkan sesi, Silva memperkenalkan konsep komunikasi asertif sebagai cara sehat untuk menjaga diri. Ia menjelaskan bahwa setiap santri berhak menyampaikan penolakan, keberatan, atau pendapat tanpa rasa takut. Komunikasi asertif bukan hanya tentang berbicara dengan sopan, tetapi juga tentang menghargai diri sendiri dan orang lain. Santri belajar bahwa mengatakan “tidak” bukanlah sikap buruk, melainkan bentuk keberanian untuk menjaga batasan diri.
Setelah memahami peran komunikasi dalam menjaga keamanan diri, materi dilanjutkan pada upaya memutus rantai trauma. Silva memaparkan bagaimana pengalaman tidak menyenangkan dapat membentuk pola perilaku yang berulang, dan bagaimana seseorang bisa tanpa sadar meneruskan luka yang pernah ia terima. Para santri diajak mengenali pengalaman menyakitkan yang mungkin pernah mereka alami, lalu memahami bahwa mereka memiliki kemampuan untuk berhenti mengulanginya.
Referensi
Daniati, N. S., & Aliyyah, R. R. (2023). Pembelajaran Anti Perundungan: Persepsi Guru Kelas Rendah pada Sekolah Dasar. Karimah Tauhid, 2(6), 3022-3047
Dinihari, Y., Solihatun, S., Wiyanti, E., & Nazelliana, D. (2025). Penguatan literasi digital guru untuk pencegahan perundungan di pondok pesantren. Jurnal PkM (Pengabdian kepada Masyarakat), 8(1), 19-31.
Dinihari, Y., Solihatun, S., Wiyanti, E., & Nazelliana, D. (2025). Penguatan literasi digital guru untuk pencegahan perundungan di pondok pesantren. Jurnal PkM (Pengabdian kepada Masyarakat), 8(1), 19-31.
Kontributor Penulis: Maunatus Silviana (Mahasiswa Bimbingan Konseling UNESA)
Kontak Hotline PKBI Daerah JawaTimur:
Nomor telepon : 0823-2360-2830
Email : pkbijatim@pkbi.or.id
Alamat : PKBI Daerah Jawa Timur, Jl. Indragiri No. 24, Surabaya




