Pondok pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter dan akhlak mulia. Namun, seperti lembaga pendidikan lainnya, lingkungan pesantren juga dapat menghadapi tantangan terkait perundungan (bullying). Dinamika hidup bersama di asrama, hirarki senioritas, hingga tekanan sosial antar-santri dapat membuat sebagian santri rentan mengalami bullying, baik secara verbal, fisik, maupun relasional.
Permasalahan ini kerap tidak terlaporkan karena adanya budaya nrimo, rasa hormat pada senior, atau kekhawatiran dianggap lemah. Padahal, bullying dapat menimbulkan gangguan psikologis seperti kecemasan, penurunan motivasi mengaji, sulit fokus, hingga menarik diri dari kegiatan pesantren. Chalamandaris dan Vlachou (2015) menegaskan bahwa keberadaan layanan dukungan emosional dalam institusi pendidikan sangat membantu korban untuk berani melapor, sekaligus menurunkan rasa takut dan isolasi yang mereka alami.Untuk menjawab kebutuhan tersebut, pada tanggal 8 dan 15 November 2025 Mahasiswa BK UNESA berkolaborasi bersama PKBI Jawa Timur mewujudkan layanan Curhat Corner sebagai ruang aman bagi santri untuk menyampaikan keresahan secara privat, mendapatkan dukungan emosional, dan diarahkan pada pendampingan lanjutan. Sesi konseling tersebut bersifat limited edition yang hanya menerima 10 konseli pada periode tersebut. Peserta dapat mendaftar secara sukarela atau melalui rekomendasi pengajar apabila ditemukan santriwati yang membutuhkan dukungan lebih lanjut. Proses konseling dipandu oleh mahasiswa BK UNESA, yang sebelumnya telah mendapatkan pembekalan mengenai teknik konseling remaja, etika profesi, dan pendekatan empatik. Menurut Gaffney et al. (2021), intervensi berbasis sekolah sangat efektif menurunkan perilaku bullying, terlebih bila disertai ruang konseling yang mudah diakses. Model ini sejalan dengan karakter pesantren yang menekankan nilai kasih sayang (rahmah), persaudaraan, serta pembinaan akhlak.

Selama sesi, santriwati dipersilakan mengungkapkan perasaan, menceritakan pengalaman, serta mendiskusikan strategi penguatan diri. Banyak konseli mengaku merasa lebih lega, aman, dan percaya diri setelah mengikuti layanan ini.
“aku lega karena akhirnya bisa cerita ke kakak, selama di pondok aku ngga tau harus cerita tentang masalahku ke siapa, aku takut makin dijudge”
“kak, setelah dari sesi konseling ini aku memutuskan untuk berani menghadapi orang-orang yang ngebully aku”
Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa ruang aman seperti Curhat Corner bukan sekadar tempat bercerita, tetapi juga sarana pemulihan emosional yang mendorong keberanian dan resiliensi diri.
Kehadiran Curhat Corner menjadi wujud nyata komitmen PKBI Jawa Timur bersama Mahasiswa BK UNESA dalam menciptakan lingkungan pesantren yang aman, suportif, dan ramah terhadap kesehatan mental santrinya. Layanan ini diharapkan mampu:
- meningkatkan keberanian santri untuk melapor
- menurunkan potensi dampak psikologis akibat bullying,
- memperkuat budaya saling peduli dan melindungi,
- serta menanamkan nilai rahmah, persaudaraan, dan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari di pesantren.
Dengan adanya Curhat Corner, pesantren tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga rumah belajar yang mendukung kesejahteraan emosional dan tumbuh kembang santri secara menyeluruh.
Referensi :
Chalamandaris, A. G., & Vlachou, A. (2015). School-based anti-bullying interventions: Systematic review of the methodology used for evaluating their effectiveness. Procedia – Social and Behavioral Sciences, 191, 123–128.
Gaffney, H., Farrington, D. P., Espelage, D. L., & Ttofi, M. M. (2021). Are anti-bullying interventions effective? A systematic review and meta-analysis of evaluations of school-based programs. Aggression and Violent Behavior, 63, 101613.
Kontributor Penulis: Shinta Annisa Damayanti (Mahasiswa Bimbingan Konseling UNESA)
Kontak Hotline PKBI Daerah JawaTimur:
Nomor telepon : 0823-2360-2830
Email : pkbijatim@pkbi.or.id
Alamat : PKBI Daerah Jawa Timur, Jl. Indragiri No. 24, Surabaya




