Pentingnya Penerimaan Diri Menuju Ketangguhan dan Pemulihan Kesehatan Bagi ODHIV

SURABAYA – Proses perjalanan hidup setiap manusia tidak jarang dihadapkan pada situasi sulit yang menuntut ketangguhan mental dan kejujuran nurani dalam menghadapinya. Salah satu tantangan terbesar dalam fase tersebut adalah bagaimana seseorang mampu mencapai titik penerimaan diri, sebuah kondisi di mana individu mengakui realitas hidupnya tanpa disertai penghakiman negatif terhadap diri sendiri. Secara psikologis, penerimaan diri (self-acceptance) merupakan kemampuan untuk merangkul seluruh aspek diri, baik kelebihan maupun kekurangan, secara objektif (Bandura, 1994). Hal ini menjadi sangat krusial karena kondisi psikologis yang stabil merupakan fondasi utama bagi siapa pun untuk mengambil keputusan penting terkait masa depannya. Hal ini menjadi sangat penting, karena kondisi mental yang stabil berperan besar dalam mendorong seseorang untuk berani melakukan tes HIV, memulai pengobatan, serta mengakses layanan kesehatan secara terbuka. Dalam konteks perjuangan hak-hak individu dan kelompok rentan, penguatan kapasitas diri ini menjadi bagian integral dari komitmen organisasi dalam memperjuangkan akses layanan kesehatan yang adil dan setara bagi semua lapisan masyarakat.

Penerimaan diri yang tulus akan membuka ruang refleksi yang lebih dalam, sehingga individu tidak lagi merasa terjebak dalam keterpurukan yang membelenggu. Namun, rintangan yang sering kali muncul bukanlah sekadar tekanan dari luar, melainkan konflik batin berupa stigma diri (self-stigma). Menurut teori yang dikembangkan oleh Patrick Corrigan, self-stigma terjadi ketika individu menginternalisasi stereotip negatif masyarakat ke dalam diri mereka sendiri, yang mengakibatkan penurunan harga diri dan self-efficacy. Kondisi inilah yang memicu mekanisme pertahanan diri berupa penolakan (denial) (Corrigan & Watson, 2006). Jika merujuk pada model Stages of Grief dari Elisabeth Kübler-Ross, denial adalah fase perlindungan jiwa yang muncul sesaat setelah berita buruk diterima (Elisabeth Kübler-Ross, n.d.). Jika fase penolakan internal ini berlarut-larut, individu cenderung merasa bahwa dengan tidak mengakui kondisi kesehatannya, maka ancaman tersebut dianggap tidak ada, yang pada akhirnya justru menghambat langkah pemulihannya dalam pengobatan HIV dan penanganan sifilis sejak dini.

Ketika fondasi penerimaan diri telah terbentuk dan individu mulai melampaui fase penolakan batin, mereka akan lebih siap menghadapi kenyataan medis, seperti saat mendapati status positif HIV atau sifilis. Di tengah dinamika sosial kota Surabaya yang cepat, banyak individu yang terpaksa berjuang dalam kesunyian yang mencekam saat menghadapi hasil tes kesehatan yang tidak diharapkan. Rasa takut akan masa depan merupakan reaksi yang manusiawi, namun penerimaan dirilah yang menjadi gerbang utama untuk mengakses layanan medis secara terbuka. Data menunjukkan bahwa keterlambatan pengobatan sering kali bukan disebabkan oleh ketiadaan akses, melainkan oleh hambatan psikologis (Jiang et al., 2026). Padahal, penundaan pengobatan sangat berbahaya, sifilis yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi neurosifilis yang menyerang sistem saraf pusat (Zou et al., 2023). Sementara HIV yang tidak terkontrol akan menurunkan kadar sel CD4 secara drastis, melemahkan sistem imun tubuh terhadap infeksi oportunistik (Saharia & Koup, 2013).

HIV Bisa Dikendalikan, Sifilis Bisa Disembuhkan

Sains medis masa kini telah menawarkan harapan besar bahwa HIV dan sifilis adalah kondisi kesehatan yang sangat dapat dikelola. Melalui kemajuan teknologi, HIV kini dipandang sebagai kondisi kronis yang dapat dikendalikan dengan konsumsi obat Antiretroviral (ARV). Salah satu referensi medis global yang paling revolusioner adalah konsep U=U (Undetectable = Untransmittable) yang didukung oleh WHO dan CDC (National Institute of Allergy and Infectious Diseases, n.d.). Konsep ini menyatakan bahwa pengobatan rutin yang membuat jumlah virus tidak terdeteksi dalam darah berarti virus tersebut tidak akan menular kepada pasangan seksual. Hal ini merupakan katalisator besar bagi penerimaan diri penyintas, karena menghapus ketakutan akan menularkan virus. Demikian pula dengan sifilis, infeksi bakteri Treponema pallidum ini dapat disembuhkan sepenuhnya dengan terapi antibiotik yang tepat jika dideteksi lebih awal (Korespondensi et al., 2020).

Kepatuhan untuk berobat secara berkala bukan sekadar menjalankan prosedur medis, melainkan sebuah bentuk investasi jangka panjang untuk kualitas hidup yang setara. Keterlibatan aktif dalam pengobatan rutin mencerminkan komitmen seseorang untuk terus memperjuangkan hak atas kesehatannya sendiri di tengah tantangan sosial yang ada. Tanpa adanya kedisiplinan medis, potensi pemulihan fisik akan terhambat, sehingga sangat penting bagi individu untuk memprioritaskan jadwal pengobatan sebagai bagian dari rutinitas hidup sehat yang baru.

Bagi individu yang merasa berada dalam kelompok rentan, melakukan pemeriksaan kesehatan sejak dini merupakan bentuk tanggung jawab paling nyata terhadap diri sendiri. Ketakutan akan perlakuan diskriminatif seringkali menjadi penghalang, namun hal inilah yang dijawab oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Timur. Melalui Klinik Utama PKBI Jatim di Jalan Indragiri Nomor 24, Surabaya, setiap individu dapat melakukan pemeriksaan HIV dan IMS secara aman dan rahasia. Layanan ini didukung oleh tenaga kesehatan profesional dan Petugas Lapangan Program Penanggunalangan HIV yang siap mendampingi. Bagi teman-teman remaja akan dibantu oleh juga relawan remaja SeBAYA PKBI Jatim yang siap memberikan pendampingan sebaya (peer support) yang terbukti efektif secara psikologis dalam menurunkan level stres dan isolasi sosial pada pasien baru.

Momentum perjuangan untuk kesetaraan dalam layanan kesehatan harus terus dilanjutkan secara kolektif demi membangun ruang yang lebih inklusif. Perjuangan ini mencakup upaya advokasi untuk menghapus segala bentuk diskriminasi terhadap kelompok marginal agar mereka mendapatkan perlindungan hak asasi yang sama. Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang saling mendukung tanpa adanya pembatas berupa stigma. Melakukan tes HIV, pemeriksaan kesehatan, dan memulai pengobatan sedini mungkin adalah keputusan penting untuk menjaga kualitas hidup. Bagi siapa pun yang memerlukan dukungan atau layanan pemeriksaan rutin, Anda dapat menghubungi layanan informasi melalui Hotline Whatsapp 0823-2360-2830 atau instagram @pkbijawatimur @klinikutamapkbijatim dan @gueberani_surabaya. Jangan biarkan ketakutan atau penolakan diri menghalangi hak Anda untuk sehat, mari melangkah bersama untuk masa depan yang lebih sehat dan berdaya bagi seluruh warga Jawa Timur.

Kontak Hotline PKBI Daerah JawaTimur: 

Nomor telepon       : 0823-2360-2830
Email                      : pkbijatim@pkbi.or.id 
Alamat                   : PKBI Daerah Jawa Timur, Jl. Indragiri No. 24, Surabaya
Kontributor Penulis : Kyla Afiifah Putri S (Mahasiswa Psikologi UNESA)

Referensi

Bandura, A. (1994). Self-Efficacy. 4, 71–81.
Corrigan, P. W., & Watson, A. C. (2006). Self stigma. https://doi.org/https://doi.org/10.1093/clipsy.9.1.35
Elisabeth Kübler-Ross. (n.d.). Dr. Elisabeth Kübler-Ross and the Five Stages of Grief. EKR Foundation. Retrieved April 20, 2026, from https://www.ekrfoundation.org/5-stages-of-grief/5-stages-grief/
Jiang, M., Shi, Y., Liu, J., Liu, Y., Tian, Y., & He, F. (2026). Reasons for delayed medical treatment among cholelithiasis patients: a qualitative study based on the health belief model. BMC Health Services Research. https://doi.org/10.1186/s12913-026-14033-z
Korespondensi, A., Rinandari, U., Yustin, E., & Sari, E. (2020). Terapi Sifilis Terkini. CERMIN DUNIA KEDOKTERAN, 47. https://doi.org/https://doi.org/10.55175/cdk.v47i9.559
National Institute of Allergy and Infectious Diseases. (n.d.). HIV Undetectable=Untransmittable (U=U), or Treatment as Prevention. National Institutes of Health. Retrieved April 20, 2026, from https://www.niaid.nih.gov/diseases-conditions/treatment-prevention
Saharia, K. K., & Koup, R. A. (2013). XT cell susceptibility to HIV influences outcome of opportunistic infections. In Cell (Vol. 155, Number 3, p. 505). Elsevier B.V. https://doi.org/10.1016/j.cell.2013.09.045
Zou, H., Lu, Z., Weng, W., Yang, L., Yang, L., Leng, X., Wang, J., Lin, Y. F., Wu, J., Fu, L., Zhang, X., Li, Y., Wang, L., Wu, X., Zhou, X., Tian, T., Huang, L., Marra, C. M., Yang, B., … Ke, W. (2023). Diagnosis of neurosyphilis in HIV-negative patients with syphilis: development, validation, and clinical utility of a suite of machine learning models. EClinicalMedicine, 62. https://doi.org/10.1016/j.eclinm.2023.102080

    Write a comment