Peran Kita Bersama dalam Pencegahan Bunuh Diri: Dari Ruang Dengar hingga Dukungan Profesional

Setiap tahun pada 10 September, seluruh dunia memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia. Peringatan ini jauh lebih dari sekedar event tahunan, melainkan sebuah kesempatan penting untuk bersatu dalam langkah dan kepedulian. Dengan tema resmi untuk periode 2024-2026 yang bertajuk “Changing the Narrative on Suicide” dan himbauan untuk “Start the Conversation”, kita diajak untuk merubah pandangan masyarakat tentang kesehatan mental dan masalah bunuh diri. Mengubah narasi  dalam tema tersebut berarti mengalihkan stigma yang kelam menjadi ruang diskusi yang aman, penuh empati, dan tanpa penilaian.

Bunuh diri adalah masalah kesehatan publik yang rumit dan tidak bisa dianggap sepele dengan hanya satu penyebab. Menurut World Health Organization (2026), lebih dari 720.000 orang meninggal karena bunuh diri setiap tahunnya. UNICEF (2021) mengungkapkan bahwa bunuh diri menjadi penyebab kematian terbesar keempat di dunia pada kelompok usia 15–29 tahun. Angka ini menegaskan bahwa isu kesehatan mental bukanlah hal sepele yang bisa diabaikan. Kemenkes RI (2024) menyatakan bahwa gangguan jiwa dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks yang saling berkaitan, mulai dari aspek biologis, psikologis, hingga sosial. Di samping itu, berdasarkan berbagai riset ilmiah, terdapat 5 faktor pemicu utama yang melatarbelakangi krisis ini:

  1. Depresi Berat & Gangguan Mental: Faktanya, 80% hingga 90% kasus bunuh diri dipicu oleh depresi berat dan kecemasan yang tidak mendapatkan penanganan tepat, di mana perasaan putus asa yang mendalam secara konsisten terbukti berkorelasi sangat kuat dengan munculnya ide serta tindakan untuk mengakhiri hidup (Prabasanti, 2024).
  2. Perundungan (Bullying & Cyberbullying): Korban perundungan, baik di dunia nyata maupun cyberbullying di media sosial, terbukti mengalami luka emosional mendalam yang melipatgandakan risiko ide bunuh diri (Prabasanti, 2024).
  3. Distres Akibat Perilaku Berisiko: Tekanan emosional ekstrem dan rasa bersalah akibat pergaulan bebas di usia dini atau kecanduan pornografi secara nyata memicu distres psikologis dan pikiran bunuh diri pada remaja (Maurya et al., 2023).
  4. ​Vonis Penyakit Kronis & Stigma HIV: Menerima diagnosis positif HIV memicu keputusasaan instan akibat rasa takut ditolak, diisolasi, dan hilangnya harga diri, khususnya pada 72 jam pertama pasca-diagnosis (Schlebusch & Govender, 2015).
  5. ​Tekanan Identitas & Diskriminasi Lingkungan: Kelompok rentan yang mengalami gender dysphoria sering menghadapi tekanan ganda akibat penolakan keluarga serta diskriminasi sosial yang membuat mereka terasing dari lingkungan (Miranda-Mendizábal et al., 2017).

Oleh karena itu, menyederhanakan akar masalah bunuh diri melalui stigma yang menyalahkan, seperti menyebut seseorang “kurang iman” atau “kurang bersyukur”, adalah kekeliruan besar yang justru menutup akses seseorang untuk mendapatkan pertolongan yang layak (Kemenkes RI, 2024). Stigma sosial yang kuat membuat individu sering kali memilih memendam masalahnya dalam kesunyian.

​Sebagai orang terdekat, ketika melihat seseorang menunjukkan tanda-tanda perubahan perilaku yang drastis, menarik diri, kehilangan harapan, atau menyampaikan keputusasaan  menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2024), kita memiliki peran penting untuk memberikan dukungan, diantaranya yaitu:

  1. ​Dengarkan tanpa menghakimi: Berikan waktu dan ruang yang aman bagi mereka untuk berbicara secara terbuka dan tulus dari hati ke hati.
  2. ​Tidak meremehkan keluhan: Hindari mengecilkan masalah yang mereka rasakan atau membanding-bandingkan beban hidup mereka dengan pengalaman orang lain. Validasi perasaan mereka dengan penuh empati.
  3. ​Bantu hubungkan dengan tenaga profesional: Dampingi mereka untuk mencari pertolongan kepada tenaga ahli yang kompeten.

Kita tidak harus menjadi tenaga profesional berlisensi untuk menyelamatkan nyawa seseorang, dengan keberadaan kita peduli sudah menjadi langkah awal yang berharga. Namun, jika saat ini anda sendiri sedang berada di posisi yang sangat berat dan merasa terisolasi, ketahuilah bahwa anda tidak sendirian. Ketika seseorang merasa tidak diterima dan tidak memiliki tempat aman untuk bercerita, isolasi mandiri menjadi sangat berbahaya. Untuk membantu mengurangi dorongan tersebut, berikut adalah 5 hal yang dapat anda lakukan secara mandiri:

  1. Menerapkan Teknik Grounding dan Regulasi Emosi: Menggunakan latihan pernapasan dalam (deep breathing) atau teknik sensorik 5-4-3-2-1 saat impuls datang untuk mengalihkan fokus pikiran berlebih (overwhelming thoughts) kembali ke momen saat ini (Van der Kolk, 2014).
  2. Praktik Journaling (Menulis Ekspresif): Menuliskan perasaan, pikiran, dan kecemasan ke dalam jurnal membantu memproses emosi yang intens, mengurangi akumulasi stres psikologis, serta memberikan jarak kognitif antara diri dengan emosi negatif yang sedang dirasakan (Baikie & Wilhelm, 2005).
  3. Membuat Safety Plan (Rencana Keselamatan Diri): Menyusun dokumen pribadi yang berisi tanda-tanda peringatan krisis, strategi penanganan mandiri, kontak darurat keluarga atau teman, serta cara mengamankan lingkungan di sekitar dari benda-benda berbahaya (Stanley & Brown, 2012).
  4. Memperkuat Dukungan Sosial (Social Support System): Membuka diri dan berkomunikasi dengan keluarga, sahabat, atau kelompok pemulihan (support group) untuk mengurangi perasaan terisolasi, kesepian, dan kesendirian (World Health Organization, 2021).
  5. Menghubungi Bantuan Profesional & Layanan Krisis: Segera berkonsultasi dengan psikolog, psikiater, atau menghubungi hotline krisis kesehatan mental untuk mendapatkan intervensi medis serta terapi kognitif-perilaku (Cognitive Behavioral Therapy/CBT) yang efektif mengelola ideasi bunuh diri (American Psychological Association, 2019).

Bagi siapa saja yang sedang merasa lelah melangkah atau membutuhkan ruang aman untuk memproses emosi bersama pendamping yang terpercaya, layanan konsultasi psikologi di, Klinik Utama PKBI Jatim siap membersamai perjalanan pemulihan anda dengan aman dan suportif. Anda berharga, dan pertolongan bisa melalui saluran resmi berikut:

Kontak Hotline PKBI Daerah Jawa Timur:

Nomor Whatsapp   : 0823-2360-2830
Email                      : pkbijatim@pkbi.or.id  
Alamat                    : PKBI Daerah Jawa Timur, Jl. Indragiri No. 24, Surabaya
DM Instagram        : @pkbijawatimur  @klinikutamapkbijatim @gueberani_surabaya 

Kontributor Penulis :  Dina Dwi Febriani (Bimbingan dan Konseling, Universitas Negeri Surabaya)

Sumber Referensi

American Psychological Association. (2019). Understanding and preventing suicide. American Psychological Association.

​Baikie, K. A., & Wilhelm, K. (2005). Emotional and physical health benefits of expressive writing. Advances in Psychiatric Treatment, 11(5), 338–346.

​Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Mari mencegah bunuh diri, mulailah bicara. Direktorat Jenderal Tenaga Kesehatan. https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/3590/mari-mencegah-bunuh-diri-mulailah-bicara

​Maurya, C., Muhammad, T., & Thakkar, S. (2023). Examining the relationship between risky sexual behavior and suicidal thoughts among unmarried adolescents in India. Scientific Reports, 13, Article 34975.

​Miranda-Mendizábal, A., Castellví, P., Parés-Badell, O., Almenara, J., Alonso, I., Blasco, M. J., Cebrià, A., Gabilondo, M., Gili, M., Lagares, C., Piqueras, J. A., Roca, M., Rodriguez-Marin, J., Rodríguez-Jiménez, T., Soto-Sanz, V., Vilagut, G., & Alonso, J. (2017). Sexual orientation and suicidal behaviour in adolescents and young adults: Systematic review and meta-analysis. The British Journal of Psychiatry, 211(2), 87–95.

​Prabasanti, M. (2024). Perilaku bunuh diri pada remaja: Systematic literature review. CORONA: Jurnal Ilmiah Kesehatan, 2(4), 229–238. https://doi.org/10.61132/corona.v2i4.878

​Schlebusch, L., & Govender, R. D. (2015). Elevated risk of suicidal ideation in HIV-positive persons. Depression Research and Treatment, 2015, Article ID 609172, 1–6.

​Stanley, B., & Brown, G. K. (2012). Safety planning intervention: A brief intervention to mitigate suicide risk. Cognitive and Behavioral Practice, 19(2), 256–264.

​UNICEF. (2021). The State of the World’s Children 2021: On my mind – Promoting, protecting and caring for children’s mental health. United Nations Children’s Fund.

​Van der Kolk, B. A. (2014). The body keeps the score: Brain, mind, and body in the healing of trauma. Viking.

​World Health Organization. (2021). Live life: An implementation guide for suicide prevention in countries. World Health Organization.

World Health Organization. (2026). Suicide. World Health Organization. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/suicide

    Write a comment