Mau bermata biru ataupun cokelat, berambut pirang ataupun hitam, setiap anak muda memiliki aspirasi yang sama: hidup dengan bermartabat, memperoleh kesempatan yang setara, didengar suaranya, dan mewarisi masa depan yang berkelanjutan. Semangat inilah yang diangkat Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui tema Hari Pemuda Internasional 2026, Different Contexts, Common Aspirations.
Namun, aspirasi yang sama tidak berarti semua anak muda memulai dari garis yang sama. Bagi jutaan remaja di Indonesia, perjuangan meraih masa depan tidak hanya dihadapkan pada tantangan pendidikan atau pekerjaan, tetapi juga ancaman kekerasan dan eksploitasi seksual yang membatasi hak mereka untuk tumbuh, belajar, dan berpartisipasi secara aman.
Perbedaan konteks ini juga tercermin dalam tantangan kesehatan seksual dan reproduksi di berbagai negara. Di banyak negara berpendapatan tinggi, isu yang mengemuka lebih berkaitan dengan kesenjangan akses bagi kelompok rentan, tingginya biaya layanan, serta peningkatan kualitas dan inklusivitas pelayanan (Debelo et al., 2026). Sebaliknya, di negara berpendapatan rendah dan menengah, termasuk Indonesia, anak dan remaja masih menghadapi persoalan yang lebih mendasar, seperti perkawinan anak, kehamilan remaja, tingginya kebutuhan kontrasepsi yang belum terpenuhi, infeksi menular seksual, aborsi tidak aman, serta kekerasan dan eksploitasi seksual (Sully et al., 2025). Berbagai persoalan tersebut saling berkaitan dan diperburuk oleh kemiskinan, ketimpangan gender, stigma, lemahnya sistem kesehatan, serta terbatasnya akses terhadap pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi yang akurat dan komprehensif.
Kerentanan tersebut tidak muncul begitu saja. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kemiskinan, ketimpangan ekonomi, dan lemahnya perlindungan sosial meningkatkan risiko kekerasan dan eksploitasi seksual terhadap anak. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia juga menghadapi tekanan ekonomi yang ditandai dengan meningkatnya pemutusan hubungan kerja, menyusutnya kelas menengah, dan bertambahnya kelompok masyarakat berpendapatan rendah (Agungnoe, 2026). Kondisi ini secara tidak langsung melemahkan kapasitas keluarga dan komunitas dalam memberikan perlindungan kepada anak.
Manifestasi dari persoalan tersebut tercermin dalam hasil Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024, yang mencatat peningkatan prevalensi kekerasan seksual seumur hidup dibandingkan tahun 2021 (KPPA, 2022; KPPA, 2025). Pada anak laki-laki, prevalensi meningkat dari 3,65% menjadi 8,34%, sedangkan pada anak perempuan meningkat dari 8,43% menjadi 8,82%. Temuan ini menjadi semakin penting mengingat anak dan remaja berusia 10–24 tahun mencakup sekitar 24,2% populasi dunia, dengan mayoritas tinggal di negara berpendapatan rendah dan menengah. Dengan demikian, investasi pada pencegahan kekerasan bukan sekadar upaya perlindungan, tetapi juga prasyarat untuk menciptakan kesempatan yang lebih setara dan mengurangi kesenjangan pembangunan.
Gambaran serupa juga ditemukan di tingkat daerah. Survei PKBI Jawa Timur periode 2023–2026 terhadap 649 responden menunjukkan bahwa kekerasan emosional merupakan bentuk kekerasan yang paling banyak dialami, diikuti kekerasan fisik dan seksual. Lebih dari seperempat responden (27,31%) menyatakan bahwa pengalaman kekerasan pertama kali terjadi ketika mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Temuan ini menunjukkan bahwa intervensi perlu dimulai sejak usia sekolah dasar, atau bahkan lebih dini, ketika anak masih sangat rentan dan belum memiliki kemampuan untuk mengenali, menolak, maupun melaporkan kekerasan yang mereka alami.
Sayangnya, respons yang berkembang di Indonesia masih lebih berfokus pada penindakan setelah kekerasan terjadi daripada mengurangi faktor-faktor risiko. Di sisi lain, upaya pencegahan juga menghadapi berbagai hambatan. Pembahasan mengenai kesehatan seksual dan reproduksi masih sering dianggap tabu sehingga banyak anak muda enggan mencari informasi karena takut dicap tidak bermoral. Korban kekerasan seksual pun masih menghadapi budaya diam dan victim-blaming yang menghambat pelaporan serta akses terhadap perlindungan dan pemulihan (Rizki et al., 2025).
Menghadapi tantangan tersebut, anak muda seharusnya tidak hanya diposisikan sebagai kelompok yang perlu dilindungi, tetapi juga sebagai agen perubahan. Berbagai pengalaman menunjukkan bahwa program yang melibatkan pemuda sebagai pendidik sebaya (peer educators), advokat, maupun perancang program lebih efektif menjangkau remaja dibandingkan pendekatan yang sepenuhnya bersifat top-down (Wijayanti & Dewi, 2025; Zayani et al., 2026). Anak muda memahami bahasa, budaya digital, dan dinamika sosial generasinya sendiri sehingga lebih mampu membangun kepercayaan, mengenali risiko, dan mendorong teman sebayanya mencari bantuan ketika menghadapi situasi yang tidak aman.
PKBI Jawa Timur mengadopsi pendekatan ini melalui Youth Centre SeBAYA, sebuah wadah bagi anak muda untuk belajar, berorganisasi, dan menjadi penggerak edukasi kesehatan seksual dan reproduksi remaja. Selain Youth Centre SeBAYA, PKBI Jawa Timur juga memiliki beberapa youth center di berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur. Hingga Juli 2026, terdapat 15 relawan aktif di Youth Centre SeBAYA dan total 50 relawan aktif yang tersebar di seluruh youth center PKBI Jawa Timur di berbagai cabang kabupaten/kota.

Per Juli 2026, Youth Centre SeBAYA tahun 2026 telah menjangkau lebih dari 8.000 penerima manfaat melalui edukasi kesehatan seksual dan reproduksi, relasi yang sehat, consent, pencegahan kekerasan dan eksploitasi seksual. Edukasi disampaikan melalui berbagai media dan metode, baik secara luring maupun daring, di sekolah, komunitas, organisasi kepemudaan, serta platform digital. Program ini juga telah memberikan layanan kepada sekitar 2.000 penerima manfaat melalui skrining kekerasan, pemeriksaan kesehatan umum, pemeriksaan kesehatan reproduksi, serta layanan konseling dan pendampingan. Youth Centre SeBAYA membuktikan bahwa ketika anak muda diberi pengetahuan dan ruang untuk memimpin, mereka mampu menjadi penggerak perlindungan yang efektif bagi teman sebaya dan komunitasnya.
Di tingkat nasional, partisipasi tersebut juga berkembang melalui berbagai organisasi kepemudaan, komunitas, dan Forum Anak. Namun, ruang partisipasi yang bermakna masih perlu diperluas. Keterlibatan anak muda tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial atau konsultasi simbolis, tetapi harus diintegrasikan dalam penyusunan kebijakan, pengembangan kurikulum, kampanye digital, hingga evaluasi program perlindungan anak.
Salah satu strategi yang perlu diperkuat adalah Comprehensive Sexuality Education (CSE). Penelitian menunjukkan bahwa CSE tidak mendorong perilaku seksual berisiko, melainkan meningkatkan kemampuan anak dan remaja mengenali kekerasan, memahami persetujuan (consent), membangun relasi yang sehat, menjaga keamanan di ruang digital, serta mencari pertolongan ketika menghadapi situasi berisiko (Rodríguez-García et al., 2025). Dengan demikian, CSE bukan sekadar pendidikan tentang seks, tetapi pendidikan untuk melindungi diri.
Tetapi, pendidikan saja tidak cukup. Pencegahan harus didukung oleh kebijakan yang berpihak pada korban, informasi dan layanan kesehatan seksual dan reproduksi yang mudah diakses, perlindungan yang lebih kuat di ruang digital, serta lingkungan sosial yang tidak lagi menyalahkan korban ketika kekerasan terjadi. Perlindungan anak hanya akan efektif apabila pemerintah, sekolah, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat sipil, keluarga, platform digital, dan anak muda bekerja sebagai mitra yang setara.
Tema Different Contexts, Common Aspirations mengingatkan kita bahwa meskipun setiap negara menghadapi tantangan yang berbeda, setiap anak muda memiliki harapan yang sama: hidup aman, dihormati, dan memiliki kesempatan untuk berkembang. Aspirasi tersebut tidak akan terwujud apabila kekerasan dan eksploitasi seksual masih menjadi ancaman yang membatasi masa depan mereka.
Hari Pemuda Internasional bukan hanya perayaan potensi generasi muda, tetapi juga pengingat bahwa pemuda merupakan bagian dari solusi. Ketika mereka dibekali pengetahuan, diberi ruang untuk bersuara, dan dilibatkan dalam pengambilan keputusan, mereka tidak lagi sekadar menjadi penerima manfaat kebijakan, melainkan penggerak utama lahirnya Indonesia yang lebih aman, setara, dan bermartabat bagi setiap anak.
Hari Pemuda Internasional mengingatkan kita bahwa setiap anak muda dapat menjadi bagian dari solusi. Jika Anda ingin berkontribusi menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi anak dan remaja, informasi pendaftaran Youth Centre SeBAYA PKBI Jawa Timur dapat diakses melalui Instagram @sebayapkbijatim. Bagi Anda yang membutuhkan informasi, pendampingan, atau ingin melaporkan kasus kekerasan, jangan ragu menghubungi @pkbijawatimur. Setiap langkah kecil untuk berani peduli dapat menjadi awal perubahan besar bagi masa depan generasi muda Indonesia.
Agungnoe (2026) Jumlah kelas menengah RI turun, minimnya ketersediaan lapangan pekerjaan, Universitas Gadjah Mada. https://ugm.ac.id/id/berita/jumlah-kelas-menengah-ri-turun-minimnya-ketersediaan-lapangan-pekerjaan/.
Debelo, B., Callander, D., Gunaratnam, P., Bateson, D., Carter, A. (2026). Socio-ecological analysis of access to sexual and reproductive health services among migrant and refugee women in high-income countries: A systematic review. Sexuality Research and Social Policy [Preprint]. https://doi.org/10.1007/s13178-026-01291-z.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia [KPPPA]. (2025). Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024. https://www.kemenpppa.go.id/buku/survei-nasional-pengalaman-hidup-anak-dan-remaja-snphar-2024
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia [KPPPA]. (2022). Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2021. https://www.kemenpppa.go.id/buku/survei-pengalaman-hidup-anak-dan-remaja-tahun-2021
Rodríguez-García, A., Botello-Hermosa, A., Borrallo-Riego, Á., Guerra-Martín, M.D. (2025). Effectiveness of comprehensive sexuality education to reduce risk sexual behaviours among adolescents: A systematic review. Sexes, 6(1), 6. https://doi.org/10.3390/sexes6010006.
Sully, E.A., Rosenberg, J.D., Tignor, M., Geddes, C.E., Fernandez, A.D., Polis, C. (2025). Adding it up 2024: Investing in sexual and reproductive health in Low- and Middle-Income countries. https://doi.org/10.1363/2025.300735.
Wijayanti, E., Dewi, R. K. (2025). Implementasi metode peer educator untuk meningkatkan literasi kesehatan reproduksi remaja di sekolah. Jurnal Sapta Mengabdi, 5(1), 32–36. https://doi.org/10.51851/jsm.v5i1.732
Zayani, N., Prasetyaningsih, P., Muzzaki, M.F.R. (2026). Pemberdayaan remaja melalui peer educator untuk pencegahan perilaku seksual beresiko di SMKN 1 Pariaman. Jurnal Pengabdian Masyarakat Bhinneka, 4(3), 3065–3071. https://doi.org/10.58266/jpmb.v4i3.952.
Kontak Hotline PKBI Daerah Jawa Timur:
Nomor Whatsapp : 0823-2360-2830
Email : pkbijatim@pkbi.or.id
Alamat : PKBI Daerah Jawa Timur, Jl. Indragiri No. 24, Surabaya
DM Instagram : @pkbijawatimur @klinikutamapkbijatim @gueberani_surabaya
Kontributor Penulis : Patricia Verina Pudji (The Chinese University of Hong Kong (Shenzhen))




