Tubuh dan Pikiranmu Selalu Tahu Kapan Harus Istirahat: Dengarkan Alarm Diri Sebelum Terlambat

Pernahkah terlintas rasa takut di dalam pikiran ketika membayangkan melakukan tes HIV dan menerima hasil yang positif?

Pertanyaan dan rasa cemas seperti itu sangat wajar dirasakan oleh siapa pun. Namun, munculnya rasa takut tersebut sebenarnya patut diapresiasi, karena menjadi sinyal awal bahwa ada niat di dalam diri untuk mulai menjaga kesehatan serta keselamatan diri sendiri. Keberanian untuk sadar ini jauh lebih baik dibandingkan terus merasa “aman” secara semu hanya karena tidak terdiagnosis positif, padahal kenyataannya diri sendiri masih aktif melakukan hubungan seksual yang berisiko.

Namun perlu menjadi perhatian juga bahwa niat saja tidak cukup, ketika sudah ada pemikiran untuk tes maka tidak ada yang namanya sia-sia untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut demi menjaga kesehatan tubuh dan pikiran. Perlu untuk memberanikan diri melakukan tes HIV-baik pengambilan sampel darah melalui jari tangan maupun vena di lengan-dan mendengarkan hasil pemeriksaan serta rekomendasi dokter secara objektif. Di sinilah pentingnya memahami konsep golden hour, yaitu sebuah istilah medis yang merujuk pada 60 menit pertama setelah seorang pasien mengalami trauma fisik akut atau krisis kesehatan mengancam jiwa (Lerner & Moscati, 2001; Little, 2010).

Golden hour tersebut sangat penting diperhatikan terutamanya bagi orang yang baru terdiagnosis HIV positif. Menerima kabar bahwa diri kita terdiagnosis HIV—baik karena kita memang sudah berniat melakukan tes tetapi ternyata tidak siap melihat hasilnya, maupun saat sekadar mengikuti tes rutin tanpa persiapan mental sama sekali—selalu memberikan guncangan yang tidak mudah. Hal ini sangat dipahami oleh petugas kesehatan maupun petugas pendamping dan sangat wajar terjadi. Setelah hasil tes keluar, sebagian besar orang akan melewati fase yang amat berat; reaksi yang paling sering terjadi adalah rasa syok hebat, murung, cemas berlebih, hingga produktivitas kerja yang mendadak anjlok karena pikiran terus dipenuhi rasa takut akan masa depan dan pengucilan sosial (Lenmed, 2024; Tang et al., 2025). Pada kasus ekstrem, tekanan emosional dan isolasi diri dapat memicu pikiran negatif hingga dorongan untuk menarik diri sepenuhnya dari lingkungan (Di Gennaro et al., 2024).

Konsep golden hour didefinisikan sebagai masa kritis awal pasca-tes untuk memproses guncangan emosional, menavigasi respon kecemasan, serta memulai akses layanan kesehatan secara tepat. Memahami golden hour tersebut sangat bermanfaat bagi individu yang baru terdiagnosis agar tidak terjebak dalam rasa panik dan penolakan (denial) yang berlarut-larut (Lenmed, 2024). Serta untuk memberikan fondasi mental yang stabil, dan memastikan pasien dapat segera memulai terapi Antiretroviral (ARV) lebih awal guna menekan jumlah virus hingga tidak terdeteksi (Undetectable = Untransmittable / U=U) demi meraih kualitas hidup yang sehat dan berdaya (Tang et al., 2025).

Kenali Tanda Berikut Untuk Menavigasi Kebingungan Dan Rasa Takut Pasca-Diagnosis HIV

Dalam penerapannya, memanfaatkan Golden Hour dimulai dengan mengenali 5 tanda utama bahwa tubuh dan pikiran sedang berjuang keras memproses fakta baru atas diagnosis HIV positif:

1.      Reaksi freeze atau mati rasa emosional (emotional numbness)

Sesaat setelah mendengar hasil positif, tubuh terasa kaku, pikiran mendadak kosong (blank), atau merasa seolah kejadian tersebut dialami orang lain. Ini adalah mekanisme pertahanan otomatis sistem saraf (fight, flight, or freeze) untuk melindungi jiwa dari guncangan instan (Kuswoyo, nd.d.). Dalam konsep golden hour, menyadari bahwa mati rasa ini adalah perasaan yang wajar dapat  membantu seseorang untuk tidak memaksakan diri langsung tegar, melainkan memberi waktu untuk memproses informasi yang diterima, dan menerima kenyataan dengan sepenuhnya hati.

2.      Kecemasan berlebih dan ketakutan eksistensial yang intens

Muncul rasa takut meluap-luap mengenai masa depan, bayangan bahwa hidup sudah berakhir, serta ketakutan terhadap penilaian orang lain (internalized stigma) (ViiV Healthcare, n.d.). Penerapan konsep golden hour dapat mengarahkan individu untuk memvalidasi rasa takut ini tanpa menghakimi diri, sehingga menurunkan hormon stres dan mencegah depresi.

3.      Penolakan keras (denial) dan keinginan menghindari layanan atau pengobatan

Muncul dorongan kuat untuk menolak kebenaran hasil tes, meyakini laboratorium salah, atau sengaja menghindari layanan kesehatan HIV (Lenmed, 2024). Golden hour bisa memandu individu agar tidak terperangkap terlalu lama dalam penolakan, sehingga dapat segera mencari informasi medis secara objektif.

4.      Penurunan produktivitas dan kelelahan mental (mental fatigue)

Kinerja harian anjlok, sulit berkonsentrasi, dan tubuh mudah lelah fisik-mental karena energi terkuras memikirkan diagnosis (Tang et al., 2025). Memahami golden hour dapat mengarahkan fokus untuk beristirahat sejenak dan mengalihkan energi pada langkah-langkah kecil pemulihan.

5.      Kecemasan sosial (social rejection)

Keinginan kuat menjauh dari keluarga, pasangan, maupun teman karena takut akan penolakan sosial atau stigma lingkungan (Alonzo & Reynolds, 1995; Di Gennaro et al., 2024). Melalui konsep Golden Hour, individu didorong untuk keluar dari isolasi dengan menghubungi ruang aman seperti pendamping sebaya.

Penting untuk ditekankan bahwa konsep golden hour tidak hanya perlu dipahami oleh mereka yang terkait langsung dengan isu ini, melainkan perlu dipahami oleh semua lapisan masyarakat. Beban mental pasca-diagnosis dapat terasa sangat berat, terlebih jika seseorang kurang terbiasa mengenali emosinya akibat tekanan lingkungan budaya maupun stigma sosial yang melekat. Pemahaman publik yang baik akan menciptakan lingkungan sosial yang empatik, meruntuhkan stigma struktural, serta memastikan bahwa siapa pun yang terdiagnosis mendapatkan dukungan emosional tanpa rasa takut dialienasi atau diasingkan, maupun takut mengakses layanan profesional.

Konsep golden hour penting untuk dipahami agar emosi yang asing tersebut dapat diregulasi dengan tepat. Memahami konsep golden hour memberikan panduan bahwa guncangan emosional pasca-diagnosis HIV adalah proses manusiawi yang harus dihadapi dengan kesadaran, dan kasih sayang pada diri sendiri. Pesan terpenting dalam perjalanan ini adalah keberanian untuk jujur pada diri sendiri terlebih dahulu. Mungkin ada pergulatan batin atau penolakan atas diri sendiri, namun hal tersebut tidak boleh menjadi penghalang untuk mengakses layanan kesehatan.

Selama masih aktif secara seksual, menjaga diri melalui tes dan perawatan HIV-IMS adalah bentuk tanggung jawab dan perlindungan diri yang sangat berharga. Kamu bisa langsung akses layanan tes HIV dan IMS (Sifilis) di Klinik Utama PKBI Jawa Timur selaku klinik yang berbasis komunitas di Surabaya dan buka mulai Senin-Jumat pukul 08.00-21.00 WIB, serta hari Sabtu mulai pukul 08.00-16.00 WIB. Untuk mengakses layanan pendamping lapangan atau pendamping sebaya kamu bisa menghubungi kami melalui kontak dibawah ini ya! Jangan biarkan kebingungan dan rasa takut menutup akses kesehatanmu. Ambil langkah pencegahan HIV sekarang juga dengan mengakses layanan tes dan pendampingan profesional.

Kontak Hotline PKBI Daerah Jawa Timur:  

Nomor Whatsapp : 0823-2360-2830
Email : pkbijatim@pkbi.or.id  
Alamat : PKBI Daerah Jawa Timur, Jl. Indragiri No. 24, Surabaya 
DM Instagram : @klinikutamapkbijatim @gueberani_surabaya 

Kontributor Penulis : Sai

Sumber Referensi:

Alonzo, A. A., & Reynolds, N. R. (1995). Stigma, HIV and AIDS: An exploration and elaboration of a stigma trajectory. Social Science & Medicine, 41(3), 303-315. https://doi.org/10.1016/0277-9536(94)00384-6

Di Gennaro, F, et al. (2024). Psychological burden, social stigma, and mental health outcomes among people living with HIV. Journal of Global Health & Mental Health.

Kübler-Ross, E. (1969). On death and dying. Macmillan.

Kuswoyo. (n.d.). Sistem saraf otonom dan mekanisme pertahanan psikologis (Fight, Flight, or Freeze).

Lenmed. (2024, December 12). The mental health impact of HIV: Coping, support and solutions. https://www.lenmed.co.za/what-is-the-connection-between-hiv-and-mental-health/

Lerner, E. B., & Moscati, R. M. (2001). The golden hour: Scientific fact or medical “urban legend”? Academic Emergency Medicine, 8(7), 758-760. https://doi.org/10.1111/j.1553-2712.2001.tb00185.x

Little, W. (2010). Golden hour or golden opportunity: Early management of pediatric trauma. Clinical Pediatric Emergency Medicine, 11(1), 2-10. https://doi.org/10.1016/j.cpem.2009.12.001

Tang, Y, Zhang, L., & Wang, X. (2025). Psychological experience and coping of AIDS patients about the disease. PubMed Central (PMC), 12431780. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12431780/

ViiV Healthcare. (n.d.). Addressing internalized stigma and emotional well-being in HIV care. ViiV Healthcare Global.

    Write a comment